Dongeng Tukang Masak yang Licik
Dongeng Tukang Masak yang Licik Dongeng Tukang masak yang licik - Dahulu kala tersedia seorang tukang masak. Dia cukup cerdas namun ...
https://eiostudent.blogspot.com/2014/07/dongeng-tukang-masak-yang-licik.html
![]() |
| Dongeng Tukang Masak yang Licik |
Dongeng Tukang masak yang licik - Dahulu kala tersedia seorang tukang masak. Dia cukup cerdas namun kurang mempunyai tanggung jawab. Ketika dia nampak rumah menghirup udara bebas, dia mulai sangat senang dan mulai fikiranya sangat tenang. Dan kala dia lagi ke rumahnya, dia akan meluangkan waktunya untuk meneguk segelas anggur paling baik tanpa sepengetahuan majikanya untuk memunculkan semangatnya. Ketika nafsu makanya meninggi, maka dia akan memakan masakan paling baik yang dapat di masaknya. "Seorang tukang masak perlu mengetahui mencicipi apapun". Katanya.
pada suatu hari, tuanya berpesan kepadanya "Aku tengah menanti kehadiran tamu pada malam ini, anda perlu buat persiapan sepasang masakan ayam yang lezat".
"Baik tuan" jawab Tukang masak itu. Kemudian diapun memotong ayam, membersihkannya lantas mencabuti bulunya. Dan kala menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api sampai matang. Tapi sampai ayam tersebut mulai berwarna coklat dan nyaris selesai dipanggang, ternyata tamu yang di tunggu-tunggu tersebut belum juga datang.
"Jika tamu yang kami menanti tak datang juga, maka aku perlu mengeluarkan ayam ini dari api tuan, dan memakanya kala masih hangat. Karena sayang terkecuali sampai gosong atau di biarkan dingin, maka masakan aku akan sia-sia gara-gara rasanya udah beruubah”. Kata tukang masak itu kepada tunaya.
“Baikl;ah kalu begitu, anda menanti di sini sebentar. Aku akan coba menjemput tamu ku”. Kata tuanya.
karena sangat lama berdiri di dekat tungku api, membawa dampak tukang masak itu menjadi panas dan mulai kehausan. Lalu diapun pergi turun ke area penyimpanan untuk menyita anggur. Dia menyita seteguk anggur bersama dengan gelas besar untuk memuaskan dahaganya. Tapi sebagaimana kebiasaanya, setiap habis minum anggur nafsu makanya akan meningkat. Dan itu adalah kesalahan yang cukup fatal kali ini..
Dia lagi ke atas dan menyaksikan ayam yang dia panggang. Di olesinya bersama dengan mentega dan di bolak-baliknya di atasa tungku api. Aroma yang menyengat tambah memunculkan seleranya. Sehingga hatinya tergelitik untuk mencoba.
“Aku perlu tahu, apakah rasanya juga se sedap baunya”. Gumamnya.
Lalu dia pun mencolekan jarinya, dan menjilatnya. Rasanya sebenarnya sedap sekali. Kemudian dia menyaksikan sayap ayam sebelah kiri udah mulai hangus, maka dia pun bermaksud untuk mengambilnya.
“Wah.. sayang apa sekiranya sampai hangus dan tak dapat di makan. Ebih baik aku makan saja”. Katanya. Tukang masak itupun memakan sayap ayam itu bersama dengan lahap. Tapi ternyata tak sampai di situ saja. Nafsu makanya tambah meninggi.
“Wah.. masak yang satunya di biarkan saja? Hmm.. lebih baik ku makan juga biar adil”. Katanya.
Dia lantas memakan sayap ayam yang satunya lagi. Setelah ke dua sayap ayam itu habis, dia menengok ke jendela. Tuanya belum tersedia tanda-tanda datang. Tukang masak itu termenung sebentar.
“Mungkinkah tuan ku tak pulang juga? Atau mungkin mereka datang besok dan tuan ku menunggunya di penginapan? Sayang seluruh makanan yang udah ku masak ini. Dari pada sia-sia, lebih baik ku makan saja ayam yang tadi..”. katanya sambil menyita ayam yang udah tak tersedia sayapnya.
Di makanya bersama dengan lahap, rasanya sungguh nikmat di temani segelas anggur ke sukaanya. Setelah seluruh habis, diakembali menengok ke jendela.
“Belum datang juga? Hmm.. mungkin sebenarnya benar mereka tak akan pulang malam ini. Sayang masih tersedia sisa satu ayam terkecuali di sia-sia kan. Lebih baik aku makan sekalian dari pada terbuang percuma”. Kata tukang masak itu sambil lagi memakan ayam yang satunya bersama dengan lahap. Tapi kala dia udah nyaris selesai makan, tiba-tiba dia mendengar sura tuanya berteriak dari luar.
“hai..! tamunya udah datang. Siapkan masakan mu. Aku akan mengasah pisau untuk mengiris ayam panggang itu. Nanti terkecuali tamu iotu mengetuk pintu, bukakan pintu untuknya”. Kata tuanya.
“Baik tuan”. Jawab tukang masak itu.
Ketika sang majikan tengah asik mengasah pisau makan di meja, tamu yang di tunggu-tunggu datang mengetuk pintu. Si tukang masak datang untuk membukakan pintu tersebut.
“Sssssttttt...!! Sebaiknya anda cepat pergi dari sini, kalu tidak anda nanti dapat celaka. Kamu mengetahui kenapa tuan ku menyuruh mu ke sini? Dia menginginkan telinga mu. Dengarlah, dia di belakang udah bersiap-siap mengasah pisaunya”. Kata tukang masak itu sambil berbisik. Tamu itu pun mendengarkan, dan benar.. dia mendengar nada sii majikan yang sednag mengasah pisau. Dan tamu itu pun lari terbirit-birit gara-gara mengira apa yang di katakan tukang masak itu benar.
Lalu tukang masak itu pergi menghadap tuanya dan berkata” Tuan, tamu tuan udah pergi membawa suatu hal dari rumh ini”. Katanya.
“Apa maksud mu? Apa yang dia bawa?”. Tanya tuanya.
“Dia membawa dua buah ayam panggang yang udah aku masak tuan..”. Jawab tukang masak itu.
“Sungguh tingkah laku yang tidak sopan.. apakah dia tidak menyisakan satu untuk ku? Aku akan coba mengejarnya dan meminta satu ayam, gara-gara aku juga sangat lapar..”. kata tuanya sambil langsung berlari keluar.
Tapi secra tak sadar, pisau yang di asahnya masih terbawa fdi tanganya. Majikan itu berlari sambil berteriak-teriak.. “Hai.. aku cuma minta satu.. aku cuma menginginkan satu saja.. berhenti.. !”. teriaknya.
Tapi si tamu jadi berlari tambah kencang, gara-gara dia mengira.. si majikan menginginkan satu telinganya. Padahal yang si majikan maksud adalah satu ayam yang di kira tamu itu bawa. Dan si tukang masak cuma dapat tertawa senang menyaksikan tipu muslihatnya berhasil.
Hikmah yang dapat kami petik adalah, jangan enteng yakin pada suatu hal hal sebelum saat anda mengetahui sendiri kebenaranya. Karena belum tentu apa yang anda menyaksikan dan apa yang anda dengar itu kenyataan yang sebenarnya. dan kecerdasan yang di miliki, harusnya di gunakan untuk hal-hal baik yang berfaedah bagi norang lain. Dan bukan untuk ke untungan diri sendiri.
pada suatu hari, tuanya berpesan kepadanya "Aku tengah menanti kehadiran tamu pada malam ini, anda perlu buat persiapan sepasang masakan ayam yang lezat".
"Baik tuan" jawab Tukang masak itu. Kemudian diapun memotong ayam, membersihkannya lantas mencabuti bulunya. Dan kala menjelang malam, dia memanggang ayam tersebut di api sampai matang. Tapi sampai ayam tersebut mulai berwarna coklat dan nyaris selesai dipanggang, ternyata tamu yang di tunggu-tunggu tersebut belum juga datang.
"Jika tamu yang kami menanti tak datang juga, maka aku perlu mengeluarkan ayam ini dari api tuan, dan memakanya kala masih hangat. Karena sayang terkecuali sampai gosong atau di biarkan dingin, maka masakan aku akan sia-sia gara-gara rasanya udah beruubah”. Kata tukang masak itu kepada tunaya.
“Baikl;ah kalu begitu, anda menanti di sini sebentar. Aku akan coba menjemput tamu ku”. Kata tuanya.
karena sangat lama berdiri di dekat tungku api, membawa dampak tukang masak itu menjadi panas dan mulai kehausan. Lalu diapun pergi turun ke area penyimpanan untuk menyita anggur. Dia menyita seteguk anggur bersama dengan gelas besar untuk memuaskan dahaganya. Tapi sebagaimana kebiasaanya, setiap habis minum anggur nafsu makanya akan meningkat. Dan itu adalah kesalahan yang cukup fatal kali ini..
Dia lagi ke atas dan menyaksikan ayam yang dia panggang. Di olesinya bersama dengan mentega dan di bolak-baliknya di atasa tungku api. Aroma yang menyengat tambah memunculkan seleranya. Sehingga hatinya tergelitik untuk mencoba.
“Aku perlu tahu, apakah rasanya juga se sedap baunya”. Gumamnya.
Lalu dia pun mencolekan jarinya, dan menjilatnya. Rasanya sebenarnya sedap sekali. Kemudian dia menyaksikan sayap ayam sebelah kiri udah mulai hangus, maka dia pun bermaksud untuk mengambilnya.
“Wah.. sayang apa sekiranya sampai hangus dan tak dapat di makan. Ebih baik aku makan saja”. Katanya. Tukang masak itupun memakan sayap ayam itu bersama dengan lahap. Tapi ternyata tak sampai di situ saja. Nafsu makanya tambah meninggi.
“Wah.. masak yang satunya di biarkan saja? Hmm.. lebih baik ku makan juga biar adil”. Katanya.
Dia lantas memakan sayap ayam yang satunya lagi. Setelah ke dua sayap ayam itu habis, dia menengok ke jendela. Tuanya belum tersedia tanda-tanda datang. Tukang masak itu termenung sebentar.
“Mungkinkah tuan ku tak pulang juga? Atau mungkin mereka datang besok dan tuan ku menunggunya di penginapan? Sayang seluruh makanan yang udah ku masak ini. Dari pada sia-sia, lebih baik ku makan saja ayam yang tadi..”. katanya sambil menyita ayam yang udah tak tersedia sayapnya.
Di makanya bersama dengan lahap, rasanya sungguh nikmat di temani segelas anggur ke sukaanya. Setelah seluruh habis, diakembali menengok ke jendela.
“Belum datang juga? Hmm.. mungkin sebenarnya benar mereka tak akan pulang malam ini. Sayang masih tersedia sisa satu ayam terkecuali di sia-sia kan. Lebih baik aku makan sekalian dari pada terbuang percuma”. Kata tukang masak itu sambil lagi memakan ayam yang satunya bersama dengan lahap. Tapi kala dia udah nyaris selesai makan, tiba-tiba dia mendengar sura tuanya berteriak dari luar.
“hai..! tamunya udah datang. Siapkan masakan mu. Aku akan mengasah pisau untuk mengiris ayam panggang itu. Nanti terkecuali tamu iotu mengetuk pintu, bukakan pintu untuknya”. Kata tuanya.
“Baik tuan”. Jawab tukang masak itu.
Ketika sang majikan tengah asik mengasah pisau makan di meja, tamu yang di tunggu-tunggu datang mengetuk pintu. Si tukang masak datang untuk membukakan pintu tersebut.
“Sssssttttt...!! Sebaiknya anda cepat pergi dari sini, kalu tidak anda nanti dapat celaka. Kamu mengetahui kenapa tuan ku menyuruh mu ke sini? Dia menginginkan telinga mu. Dengarlah, dia di belakang udah bersiap-siap mengasah pisaunya”. Kata tukang masak itu sambil berbisik. Tamu itu pun mendengarkan, dan benar.. dia mendengar nada sii majikan yang sednag mengasah pisau. Dan tamu itu pun lari terbirit-birit gara-gara mengira apa yang di katakan tukang masak itu benar.
Lalu tukang masak itu pergi menghadap tuanya dan berkata” Tuan, tamu tuan udah pergi membawa suatu hal dari rumh ini”. Katanya.
“Apa maksud mu? Apa yang dia bawa?”. Tanya tuanya.
“Dia membawa dua buah ayam panggang yang udah aku masak tuan..”. Jawab tukang masak itu.
“Sungguh tingkah laku yang tidak sopan.. apakah dia tidak menyisakan satu untuk ku? Aku akan coba mengejarnya dan meminta satu ayam, gara-gara aku juga sangat lapar..”. kata tuanya sambil langsung berlari keluar.
Tapi secra tak sadar, pisau yang di asahnya masih terbawa fdi tanganya. Majikan itu berlari sambil berteriak-teriak.. “Hai.. aku cuma minta satu.. aku cuma menginginkan satu saja.. berhenti.. !”. teriaknya.
Tapi si tamu jadi berlari tambah kencang, gara-gara dia mengira.. si majikan menginginkan satu telinganya. Padahal yang si majikan maksud adalah satu ayam yang di kira tamu itu bawa. Dan si tukang masak cuma dapat tertawa senang menyaksikan tipu muslihatnya berhasil.
Hikmah yang dapat kami petik adalah, jangan enteng yakin pada suatu hal hal sebelum saat anda mengetahui sendiri kebenaranya. Karena belum tentu apa yang anda menyaksikan dan apa yang anda dengar itu kenyataan yang sebenarnya. dan kecerdasan yang di miliki, harusnya di gunakan untuk hal-hal baik yang berfaedah bagi norang lain. Dan bukan untuk ke untungan diri sendiri.
