ASAL USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU
ASAL USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU ASAL USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU - Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terkandung sebuah ...
https://eiostudent.blogspot.com/2014/07/asal-usul-gunung-tangkuban-perahu.html
![]() |
| ASAL USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU |
ASAL USUL GUNUNG TANGKUBAN PERAHU - Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terkandung sebuah daerah rekreasi yang benar-benar indah yakni Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti dikarenakan bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.
Diceritakan bahwa Raja Sungging Perbangkara pergi berburu. Di sedang hutan Sang Raja menghilangkan air seni yang tertampung dalam daun caring (keladi hutan). Seekor babi hutan betina bernama Wayungyang yang sedang bertapa mendambakan menjadi manusia meminum air seni tadi. Wayungyang hamil dan melahirkan seorang bayi cantik. Bayi cantik itu dibawa ke keraton oleh ayahnya dan diberi nama Dayang Sumbi dengan kata lain Rarasati.
Dayang Sumbi benar-benar cantik dan cerdas, banyak para raja yang meminangnya, tetapi seorang pun tidak ada yang diterima. Akhirnya para raja saling berperang di pada sesamanya. Galau hati Dayang Sumbi lihat kekacauan yang bersumber berasal dari dirinya. Atas permitaannya sendiri Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit ditemani seekor anjing jantan yakni Si Tumang. Ketika sedang asyik bertenun, toropong (torak) yang sedang digunakan bertenun kain terjatuh ke bawah. Dayang Sumbi dikarenakan mulai malas, terlontar ucapan tanpa dipikir dulu, dia berjanji siapa pun yang mengambilkan torak yang terjatuh apabila berjenis kelamin laki-laki, bakal dijadikan suaminya. Si Tumang mengambilkan torak dan diberikan kepada Dayang Sumbi.
Dayang Sumbi pun menikahi Si Tumang dan dikaruniai bayi laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Sangkuriang mempunyai kemampuan sakti seperti ayahnya. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh Si Tumang yang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sakti.
Pada suatu hari Sangkuriang berburu di dalam hutan disuruhnya Si Tumang untuk mengejar babi betina yang bernama Wayungyang. Karena si Tumang tidak menurut, Sangkuriang marah dan membunuh Si Tumang. Daging Si Tumang oleh Sangkuriang diberikan kepada Dayang Sumbi, lantas dimasak dan dimakannya. Setelah Dayang Sumbi memahami bahwa yang dimakannya adalah Si Tumang, kemarahannya pun memuncak serta merta kepala Sangkuriang dipukul dengan senduk yang terbuat berasal dari tempurung kelapa supaya luka dan diusirlah Sangkuriang.
Sangkuriang pergi mengembara melingkari dunia. Setelah sekian lama berjalan ke arah timur kelanjutannya sampailah di arah barat kembali dan tanpa memahami telah tiba kembali di daerah Dayang Sumbi, daerah ibunya berada. Sangkuriang tidak mengenal bahwa putri cantik yang ditemukannya adalah Dayang Sumbi – ibunya, begitu termasuk sebaliknya. Terjalinlah kisah kasih di pada ke dua insan itu. Tanpa sengaja Dayang Sumbi memahami bahwa Sangkuriang adalah puteranya, dengan sinyal luka di kepalanya.
Dayang Sumbi pun mengusahakan menyatakan kesalahpahaman interaksi mereka. Walau demikian, Sangkuriang selalu memaksa untuk menikahinya. Dayang Sumbi meminta supaya Sangkuriang membuatkan perahu dan telaga (danau) dalam waktu semalam dengan membendung sungai Citarum. Sangkuriang menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu berasal dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur, tunggul/pokok pohon itu beralih menjadi gunung ukit Tanggul. Rantingnya ditumpukkan di sebelah barat dan mejadi Gunung Burangrang. Dengan pemberian para guriang, bendungan pun hampir selesai dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi bermohon kepada Sang Hyang Tunggal supaya maksud Sangkuriang tidak terwujud. Dayang Sumbi menebarkan irisan boeh rarang (kain putih hasil tenunannya), ketika itu pula fajar pun merekah di ufuk timur. Sangkuriang menjadi gusar, dipuncak kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya, sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma menjadi Gunung Manglayang. Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan beralih wujud menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang tetap mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Putri dan beralih menjadi setangkai unga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah daerah yang disebut dengan Ujung berung kelanjutannya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).
