Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka
Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka - Kisah zaman dahulu kala, hiduplah sebuah kelua...
https://eiostudent.blogspot.com/2014/07/cerita-legenda-malin-kundang-anak-durhaka.html
![]() |
| Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka |
Cerita Legenda Malin Kundang Anak Durhaka - Kisah zaman dahulu kala, hiduplah sebuah keluarga miskin di area pesisir pantai. Si bapak bekerja ikut kapal-kapal para pedagang untuk mencukupi kehidupan mereka. Keluarga itu punya seorang anak laki laki yang masih kecil, bernama Malin Kundang. Malin Kundang terhitung anak yang rajin, dia menolong tiap tiap pekerjaan ibunya untuk meringankan beban orang tua. Sehingga ibunya amat sayang pada Malin Kundang.
Hingga pada suatu waktu, sang bapak pergi berlayar. Namun sesudah hari itu, telah tak terdengar kembali kabar beritanya. Sudah bertahun-tahun berlalu, ibu malin kundang kini bekerja keras seorang diri untuk menghidupi dirinya dan membesarkan si Malin. Melihat perihal itu, malin kundang yang masih belia jadi amat kasihan. Dia bertekad untuk bekerja, merantau dan kelak pulang mempunyai harta yang banyak untuk ibunya. Hingga pada suatu hari, tersedia sebuah kapal yang memadai mewah berlabuh. Seperti biasa, malin langsung berlari ke kapal dengan para pekerja angkut, dikarenakan si malin sebetulnya bekerja sebagai kuli panggul bagi para pedagang yang berkunjung untuk menolong ibunya.
Melihat malin yang begitu rajin, sang nahkoda kapal jadi amat tertarik. Dia bermaksud mengajak malin berlayar dan bekerja di kapalnya. Malin pun jadi amat senang, dikarenakan mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang dapat dapat terwujud. Dia langsung berlari pulang untuk menghendaki izin pada emaknya.
Legenda Malin Kundang
Dengan berat hati, ibunya melepaskan anak semata wayangnya itu. Ingin rasanya menghambat malin untuk pergi, namun dikarenakan melihat niat malin yang begitu kuat, sang ibu tak kuasa melarangnya. ''Hati-hatilah di tanah rantau ya nak. Bersikaplah baik pada semua orang, senantiasa rendah hati, dan jangan lupa pada Tuhan yang maha kuasa''. Pesan ibu malin. ''Iya mak.. malin dapat senantiasa ingat nasehat emak. Kelak malin dapat pulang mempunyai harta yang banyak. Malin dapat jadi orang kaya, agar emak tak usah kembali bekerja. Malin pamit mak''. Kata malin berpamitan di iringi air mata ibunya.
Setelah hari itu, tiap tiap hari ibu malin senantiasa berdiri di pantai melihat cakrawala, menghendaki malin langsung pulang. Setiap tersedia kapal yang singgah, ibu malin senantiasa berlari menghampiri, menghendaki anaknya tersedia di kapal itu. Namun senantiasa saja kekecewaan yang dia dapat, anaknya tidak tersedia di kapal itu.
Bertahun-tahun telah berlalu, ibu malin masih menanti kepulangan anaknya dengan setia. Dia senantiasa berdiri di tepi pantai, melihat cakrawala di pagi dan sore hari, menghendaki anaknya langsung pulang. Hingga pada suatu hari, para penduduk terlihat ramai berlari-lari ke pelabuhan. Ibu malin kundang yang kala itu telah tua renta dan sakit-sakitan bertanya pada keliru seorang penduduk. Ternyata, di pelabuhan tengah berlabuh sebuah kapal yang amat mewah dan besar. Pemiliknya adalah seorang pemuda yang tampan dan kaya raya, mereka mempunyai barang dagangan yang amat banyak. Mendengar perihal itu, ibu malin langsung ikut berlari menuju pelabuhan. Langkahnya muncul lemah dan tertatih-tatih dikarenakan tubuhnya yang renta dan sakit-sakitan.
Setalah sampai di pelabuhan, muncul banyak sekali orang-orang berkumpul. Di atas kapal muncul sepasang muda-mudi dengan pakaian mewah tengah membagi-bagikan uang pada mereka. Betapa gembiranya hati ibu malin, dikarenakan begitu dia melihat, dia amat yakin bahwa pemuda gagah itu adalah anaknya. Dia dapat langsung mengenalinya berkat tanda lahir yang dimiliki malin.
Segera ibu malin naik ke atas kapal dan memeluk si malin. Namun perlakuan malin sungguh di luar dugaan, dia melemparkan perempuan tua itu sampai terjengkang. ''Siapa kau? Berani-berani mengotori pakaian ku yang mahal ini?''. Bentak malin. ''Malin.. ini aku nak, ibu mu. Kini kau amat telah jadi orang kaya nak. Kini ibu amat bahagia kau telah pulang''. Kata ibu malin. Malin terkejut mendengarnya, tak disangka wanita dengan pakaian lusuh itu adalah ibunya yang telah lama dia tinggalkan.
''Benarkah pengemis ini ibu mu bang? Kata mu kau yatim piatu, ternyata dia masih hidup sebagai pengemis..''. Kata isteri malin kundang dengan nada ketus. Karena malu dengan isterinya, malin kundang pada akhirnya membantah. Dan bicara bahwa itu adalah pengemis yang hanya mengaku-ngaku sebagai ibunya untuk mendapat uang lebih. Lalu malin kundang menghendaki awak kapal untuk mengusirnya dengan kasar, dan langsung mengangkat sauh dan berlayar meninggalkan area itu.
Menerima perlakuan yang telah keterlaluan dari anaknya, ibu malin kundang jadi amat kecewa. Rasa sakit di hatinya sungguh tiada terkira. Akirnya, dia berdo'a pada yang maha kuasa. .''Ya Tuhan.. engkau adalah dzat yang maha adil, dan mendengar tiap tiap do'a hamba mu. Jika benar dia bukan Malin anak ku, maka berilah dia keselamatan dan kebahagiaan. Tapi jika dia amat Malin kundang anak ku yang telah lama pergi, maka aku kutuk dia jadi batu''.
Seketika, langit yang tadinya cerah jadi gelap. Angin berhembus kencang, dan datanglah hujan badai yang menerjang kapal itu. Petir bersautan, ombak mengamuk. Melihat perihal itu, malin jadi amat menyesali semua perbuatanya. Namun minta ma'af kini telah terlambat. Tiba-tiba kapal mewah itu dihantam petir yang amat besar sampai pecah berkeping dan karam. Dan konon, malin kundang berubah jadi sebuah batu dikarenakan berani durhaka pada ibunya.
Hingga pada suatu waktu, sang bapak pergi berlayar. Namun sesudah hari itu, telah tak terdengar kembali kabar beritanya. Sudah bertahun-tahun berlalu, ibu malin kundang kini bekerja keras seorang diri untuk menghidupi dirinya dan membesarkan si Malin. Melihat perihal itu, malin kundang yang masih belia jadi amat kasihan. Dia bertekad untuk bekerja, merantau dan kelak pulang mempunyai harta yang banyak untuk ibunya. Hingga pada suatu hari, tersedia sebuah kapal yang memadai mewah berlabuh. Seperti biasa, malin langsung berlari ke kapal dengan para pekerja angkut, dikarenakan si malin sebetulnya bekerja sebagai kuli panggul bagi para pedagang yang berkunjung untuk menolong ibunya.
Melihat malin yang begitu rajin, sang nahkoda kapal jadi amat tertarik. Dia bermaksud mengajak malin berlayar dan bekerja di kapalnya. Malin pun jadi amat senang, dikarenakan mimpinya untuk berlayar dan merantau ke negeri seberang dapat dapat terwujud. Dia langsung berlari pulang untuk menghendaki izin pada emaknya.
Legenda Malin Kundang
Dengan berat hati, ibunya melepaskan anak semata wayangnya itu. Ingin rasanya menghambat malin untuk pergi, namun dikarenakan melihat niat malin yang begitu kuat, sang ibu tak kuasa melarangnya. ''Hati-hatilah di tanah rantau ya nak. Bersikaplah baik pada semua orang, senantiasa rendah hati, dan jangan lupa pada Tuhan yang maha kuasa''. Pesan ibu malin. ''Iya mak.. malin dapat senantiasa ingat nasehat emak. Kelak malin dapat pulang mempunyai harta yang banyak. Malin dapat jadi orang kaya, agar emak tak usah kembali bekerja. Malin pamit mak''. Kata malin berpamitan di iringi air mata ibunya.
Setelah hari itu, tiap tiap hari ibu malin senantiasa berdiri di pantai melihat cakrawala, menghendaki malin langsung pulang. Setiap tersedia kapal yang singgah, ibu malin senantiasa berlari menghampiri, menghendaki anaknya tersedia di kapal itu. Namun senantiasa saja kekecewaan yang dia dapat, anaknya tidak tersedia di kapal itu.
Bertahun-tahun telah berlalu, ibu malin masih menanti kepulangan anaknya dengan setia. Dia senantiasa berdiri di tepi pantai, melihat cakrawala di pagi dan sore hari, menghendaki anaknya langsung pulang. Hingga pada suatu hari, para penduduk terlihat ramai berlari-lari ke pelabuhan. Ibu malin kundang yang kala itu telah tua renta dan sakit-sakitan bertanya pada keliru seorang penduduk. Ternyata, di pelabuhan tengah berlabuh sebuah kapal yang amat mewah dan besar. Pemiliknya adalah seorang pemuda yang tampan dan kaya raya, mereka mempunyai barang dagangan yang amat banyak. Mendengar perihal itu, ibu malin langsung ikut berlari menuju pelabuhan. Langkahnya muncul lemah dan tertatih-tatih dikarenakan tubuhnya yang renta dan sakit-sakitan.
Setalah sampai di pelabuhan, muncul banyak sekali orang-orang berkumpul. Di atas kapal muncul sepasang muda-mudi dengan pakaian mewah tengah membagi-bagikan uang pada mereka. Betapa gembiranya hati ibu malin, dikarenakan begitu dia melihat, dia amat yakin bahwa pemuda gagah itu adalah anaknya. Dia dapat langsung mengenalinya berkat tanda lahir yang dimiliki malin.
Segera ibu malin naik ke atas kapal dan memeluk si malin. Namun perlakuan malin sungguh di luar dugaan, dia melemparkan perempuan tua itu sampai terjengkang. ''Siapa kau? Berani-berani mengotori pakaian ku yang mahal ini?''. Bentak malin. ''Malin.. ini aku nak, ibu mu. Kini kau amat telah jadi orang kaya nak. Kini ibu amat bahagia kau telah pulang''. Kata ibu malin. Malin terkejut mendengarnya, tak disangka wanita dengan pakaian lusuh itu adalah ibunya yang telah lama dia tinggalkan.
''Benarkah pengemis ini ibu mu bang? Kata mu kau yatim piatu, ternyata dia masih hidup sebagai pengemis..''. Kata isteri malin kundang dengan nada ketus. Karena malu dengan isterinya, malin kundang pada akhirnya membantah. Dan bicara bahwa itu adalah pengemis yang hanya mengaku-ngaku sebagai ibunya untuk mendapat uang lebih. Lalu malin kundang menghendaki awak kapal untuk mengusirnya dengan kasar, dan langsung mengangkat sauh dan berlayar meninggalkan area itu.
Menerima perlakuan yang telah keterlaluan dari anaknya, ibu malin kundang jadi amat kecewa. Rasa sakit di hatinya sungguh tiada terkira. Akirnya, dia berdo'a pada yang maha kuasa. .''Ya Tuhan.. engkau adalah dzat yang maha adil, dan mendengar tiap tiap do'a hamba mu. Jika benar dia bukan Malin anak ku, maka berilah dia keselamatan dan kebahagiaan. Tapi jika dia amat Malin kundang anak ku yang telah lama pergi, maka aku kutuk dia jadi batu''.
Seketika, langit yang tadinya cerah jadi gelap. Angin berhembus kencang, dan datanglah hujan badai yang menerjang kapal itu. Petir bersautan, ombak mengamuk. Melihat perihal itu, malin jadi amat menyesali semua perbuatanya. Namun minta ma'af kini telah terlambat. Tiba-tiba kapal mewah itu dihantam petir yang amat besar sampai pecah berkeping dan karam. Dan konon, malin kundang berubah jadi sebuah batu dikarenakan berani durhaka pada ibunya.
